Advertisement
Advertisement
Senin, tepatnya 26 September 2016, Tempo menulis Agus Yudhoyono Bidik Pemilih Perempuan sebagai headline di surat kabar hariannya. Hal tersebut bukan tanpa alasan. Dalam berita di halaman utama media yang telah berdiri sejak 1871 tersebut, Ketua Pemenangan Agus-Sylviana, Nachrowi Ramli, menyebut Agus masih muda dan rupawan sehingga bisa menggaet pendukung perempuan.
Ada lima sasaran yang dibidik tim pemenangan Agus-Sylviana dalam menggaet suara di Pilkada DKI 2017. Dua sasaran di antaranya:
Ada lima sasaran yang dibidik tim pemenangan Agus-Sylviana dalam menggaet suara di Pilkada DKI 2017. Dua sasaran di antaranya:
- “Menyasar pemilih muda dan pemula. Seidaknya ada 30 persen pemilih pemula di wilayah DKI Jakarta yang diperkirakan mencari kandidat yang dianggap good looking.”
- “Menyasar pemilih perempuan. Agus-Sylviana diharapkan bisa mengail suara di antara 56 persen pemilih perempuan.”
Pertanyaan pun muncul, apakah benar perempuan pada umumnya akan memilih calon pemimpinnya berdasarkan ‘sampulnya’ saja? Nah berangkat dari hal itulah Saya ingin mencari jawaban. Belasan perempuan telah kami tanyai terkait masalah tersebut.
1. Bagi perempuan yang ‘bodo amat’ soal masalah politik, tampang bisa jadi alasan memilih pemimpin daerah
Dytha Febrianti nggak menampik kalau perempuan yang apatis dengan masalah politik di Indonesia akan memilih calon pemimpin berdasarkan tampangnya. Pokoknya bagus nggaknya fisik jadi impresi pertama sebagai alasan memilih calon pemimpinnya tersebut.
Nivita Lindasari menjelaskan kenapa banyak perempuan melihat penampilan sebagai salah satu alasan memilih calon pemimpin. Perempuan yang kini kuliah di UGM tersebut berkata, “Yang penting sih amanah.”
Dwita menjelaskan, sekarang banyak perempuan yang sadar kalau fisik itu nomor kesekian. Kriteria penting calon pemimpin, kata Dwita, justru kredibilitas. Itu harus jadi faktor utama.
Alfy Maghfira ikut bicara. Perempuan yang satu ini pun setuju nggak memilih seorang pemimpin dari tampang. Good looking atau nggak bukan patokan utama (meskipun ada tendensi memilih pemimpin berdasar partai yang didukungnya).
Rekam jejaknya di masyarakat jadi kriteria pertama Rahma Dina untuk memilih calon pemimpin. Fisik cuma nilai penambah saja, tapi bukan utama.
Pradnya Wardhani dengan tegas mengatakan, tampang jadi pilihan terakhir ketika gak ada yang lebih baik soal kapabilitas dari calon-calon yang ada.
7. Orang zaman sekarang, kata perempuan Jakarta ini, sudah lebih pintar dalam memilih pemimpin. Nggak pandang tampang
Egy Citraresmi menolak mentah-mentah ihwal kriteria tampilan fisik untuk calon pemimpin di daerahnya. Perempuan asal Jakarta ini bahkan menyuruh tim pemenangan untuk mulai memilih strategi lain. “Good looking atau nggak itu nggak menjamin bisa mendapatkan suara terbanyak,” tegas Egy.
Nurul Tirsa dengan tegas menolak faktor fisik. Kompetensi adalah faktor utama kenapa seseorang harus dipilih olehnya untuk jadi calon pemimpin.
Menurut Julian Fikri, ketika seseorang punya penampilan fisik, terutama tampang yang bagus, si calon harusnya bisa memanfaatkan hal tersebut untuk mengundang impresi baik lainnya di luar faktor fisik.
Masalah good looking, kata Meily Rohmatun, jadi nomor dua. Penting itu kompetensinya. Walaupun dia nggak menampik good looking punya pengaruhnya besar, tapi baginya itu nomor dua. “Namanya juga tokoh masyarakat, bakal lebih oke kalau penampilannya baik, at least terlihat berwibawa,” kata Meily.
“Tapi kalau ditanya aku akan memilih Agus atau nggak dilihat dari penampilannya, aku sih pribadi gak bakal memilihnya. Aku cukup ngikutin cerita di balik pencalonannya, terutama soal andil ayahnya. Itu justru bikin aku enggan, meskipun secara penampilan dia cukup meyakinkan,” lanjut cewek lulusan UNS tersebut.
11. “Banyak ibu-ibu punya mindset tampang itu modal penting. Kalau aku sih nggak.”
Menurut Ardha Fadhilla, gak bisa dipungkiri kalau mindset orang Indonesia banyak yang menjadikan tampang sebagai salah satu indikator dalam memilih pemimpin. Dia menjadikan ibu sebagai contohnya.
Mustika Karindra mengatakan, mending golput daripada menjadikan tampang sebagai faktor memilih calon pemimpin.
1. Bagi perempuan yang ‘bodo amat’ soal masalah politik, tampang bisa jadi alasan memilih pemimpin daerah
Dytha Febrianti nggak menampik kalau perempuan yang apatis dengan masalah politik di Indonesia akan memilih calon pemimpin berdasarkan tampangnya. Pokoknya bagus nggaknya fisik jadi impresi pertama sebagai alasan memilih calon pemimpinnya tersebut.
2. “Kalau tampilannya bagus, biasanya kepribadiannya juga bagus.”“Perempuan melihat dari tampangnya calon, apalagi bagi perempuan yang gak interest sama hal-hal berbau politik. Aku pribadi termasuk jenis itu, milih pemimpin berdasarkan tampang. Terus menimang, kelihatan smart apa gak, protagonis apa gak mukanya. Biasanya kan kalo orangnya pinta dan baik, bisa kelihatan dari fisiknya,” jelas Dytha.
Nivita Lindasari menjelaskan kenapa banyak perempuan melihat penampilan sebagai salah satu alasan memilih calon pemimpin. Perempuan yang kini kuliah di UGM tersebut berkata, “Yang penting sih amanah.”
3. Perempuan sekarang, kata Dwita, sudah pada sadar kalau tampang itu bukan kriteria utama buat memilih calon pemimpin daerah“Tapi memang kalau mau ditilik dari segi keperibadian, tampilannya rapi biasanya kepribadiannya juga rapi. Biasanya sih gitu. Mungkin itu yang jadi motif orang suka pilih tampang,” lanjutnya.
Dwita menjelaskan, sekarang banyak perempuan yang sadar kalau fisik itu nomor kesekian. Kriteria penting calon pemimpin, kata Dwita, justru kredibilitas. Itu harus jadi faktor utama.
4. Good looking atau nggak calon pemimpin daerah bukan patokan utama“Fisik emang selalu jadi poin plus. Apapun, orang bakal tertarik duluan dari rupanya. But, balik lagi sih ke masalah kredibilitas si calon kayak gimana. Karena banyak juga cewek yang sadar, buat jadi pemimpin, fisik adalah poin kesekian dari sekian banyak poin yang lebih dibutuhkan,” kata Dwita Apriliani.
Alfy Maghfira ikut bicara. Perempuan yang satu ini pun setuju nggak memilih seorang pemimpin dari tampang. Good looking atau nggak bukan patokan utama (meskipun ada tendensi memilih pemimpin berdasar partai yang didukungnya).
5. Fisik cuma nilai plus, kata Dina. Rekam jejak yang utama“Kalau sejauh ini ikut pemilu, aku masa bodo soal tampang atau penampilan fisik. Aku biasanya milih berdasarkan partai. Kalau presiden kemarin, aku memang terpengaruh masalah kewibawaan di calon. Namun masalah good looking atau gak, bukan patokan aku selama ikut pemilihan kepala daerah,” jelas Alfy.
Rekam jejaknya di masyarakat jadi kriteria pertama Rahma Dina untuk memilih calon pemimpin. Fisik cuma nilai penambah saja, tapi bukan utama.
6. Ketika nggak ada alasan yang bisa dipilih, tampang pilihan terakhir“Good looking nggak jadi kriteria utamaku saat milih. Aku lebih milih pemimpin berdasarkan rekam jejaknya. Tampang hanya nilai tambah. Sekarang para pemilih udah pada pinter kok, lihat saja banyak pemimpin yang tampangnya biasa-biasa saja, tapi akhirnya mereka yang terpilih. Contohnya Jokowi,” tutup Dina sambil tertawa.
Pradnya Wardhani dengan tegas mengatakan, tampang jadi pilihan terakhir ketika gak ada yang lebih baik soal kapabilitas dari calon-calon yang ada.
Masih ada pendapat lainnya dari para perempuan. Coba deh buka halaman selanjutnya!“Kalau aku, variabel tampang kupakai kalau memang udah nggak ada lagi yang bisa dipilih. Jadi kalau dari segi kapabilitas calon masih ada yang unggul, ya, aku akan pilih karena itu. Tapi kalau semua calon nggak ada yang oke (nggak ada yang lebih mending soal kapabilitas), ya, mau nggak mau milih berdasarkan tampang,” tegas cewek yang akrab disapa Dhani.
7. Orang zaman sekarang, kata perempuan Jakarta ini, sudah lebih pintar dalam memilih pemimpin. Nggak pandang tampang
Egy Citraresmi menolak mentah-mentah ihwal kriteria tampilan fisik untuk calon pemimpin di daerahnya. Perempuan asal Jakarta ini bahkan menyuruh tim pemenangan untuk mulai memilih strategi lain. “Good looking atau nggak itu nggak menjamin bisa mendapatkan suara terbanyak,” tegas Egy.
8. “Jangan nilai calon pemimpinmu cuma dari sampulnya doang!”“Lagian zaman sekarang orang Indonesia udah pada pinter kok dalam memilih calon pemimpin daerahnya. Sikap, kepribadian sampai track record dari calon pemimpinlah yang jadi pertimbangan,” tambahnya,
Nurul Tirsa dengan tegas menolak faktor fisik. Kompetensi adalah faktor utama kenapa seseorang harus dipilih olehnya untuk jadi calon pemimpin.
9. Calon harusnya bisa memanfaatkan tampang untuk dilengkapi dengan faktor-faktor baik lainnyaCewek yang sering dipanggil Tirsa tersebut berkata, “Kalau aku pribadi sih jelas enggak. Nggak banget kalau mesti ngandalin tampang. Sebab, tampang itu nggak jamin dan tampang aja nggak cukup. Jadi, kalau emang kemampuan bisa cukup dilihat dari yang good looking, nggak adil dong sama mereka yang memang berkompeten dan cerdas, tapi nggak good looking. Jangan nilai dari sampulnya aja yak!”
Menurut Julian Fikri, ketika seseorang punya penampilan fisik, terutama tampang yang bagus, si calon harusnya bisa memanfaatkan hal tersebut untuk mengundang impresi baik lainnya di luar faktor fisik.
10. Kata Meily, tampang itu memang penting, tapi…“Secara umum, cewek bakal kasih poin lebih untuk calon yang punya tampilan fisik bagus, terutama tampang. Penampilan fisik memang memberikan impresi pertama yang bagus dari cewek, tapi harusnya calon tersebut bisa menumbuhkan dan memunculkan kepercayaan orang terhadapnya dari faktor lain selain fisik,” ucap Julian.
Masalah good looking, kata Meily Rohmatun, jadi nomor dua. Penting itu kompetensinya. Walaupun dia nggak menampik good looking punya pengaruhnya besar, tapi baginya itu nomor dua. “Namanya juga tokoh masyarakat, bakal lebih oke kalau penampilannya baik, at least terlihat berwibawa,” kata Meily.
“Tapi kalau ditanya aku akan memilih Agus atau nggak dilihat dari penampilannya, aku sih pribadi gak bakal memilihnya. Aku cukup ngikutin cerita di balik pencalonannya, terutama soal andil ayahnya. Itu justru bikin aku enggan, meskipun secara penampilan dia cukup meyakinkan,” lanjut cewek lulusan UNS tersebut.
11. “Banyak ibu-ibu punya mindset tampang itu modal penting. Kalau aku sih nggak.”
Menurut Ardha Fadhilla, gak bisa dipungkiri kalau mindset orang Indonesia banyak yang menjadikan tampang sebagai salah satu indikator dalam memilih pemimpin. Dia menjadikan ibu sebagai contohnya.
12. Cewek bernama Mustika ini ambil sikap, mending golput dibanding milih karena tampang“Beliau masih berpikiran kalau pemimpin itu harus ganteng dan gagah. Kasarnya biar nggak malu-maluin. Ibu-ibu biasanya cenderung berpikiran kayak gitu. Berpikir, calon pemimpin ganteng itu terlihat lebih bonafide dibanding yang mukanya pas-pasan,” kata Ardha.
“Kalau aku pribadi, aku nggak melihat tampang itu penting. Bagiku yang terpenting kinerjanya bagus, track record baik dan punya attitude yang menunjukkan dia bisa jadi pemimpin bagi orang banyak,” tegas perempuan asal Jakarta tersebut.
Mustika Karindra mengatakan, mending golput daripada menjadikan tampang sebagai faktor memilih calon pemimpin.
Gimana? Sudah terbuktikan? Beberapa perempuan di atas memang susah buat nggak mengakui tampang sebagai poin plus. Namun mayoritas mereka gak mempermasalahkan penampilan fisik untuk menjadikannya calon pemimpin. Kompetensi hingga jejak rekam justru jadi yang utama.Mutika berkata, “Gak bangetlah milih berdasar fisik. Kalau cakep tapi bloon, masa mau dipilih? Kalau gak ada yang mumpuni dari segi kualitas, aku pribadi bakal memilih untuk gak memilih salah satu dari mereka,”
Advertisement

